km Rp °C kg
Ilustrasi botol laboratorium berisi cairan berwarna dan gelembung
sistem Stock dan sistematis

Bilangan oksidasi dan tata nama

Berapa kali Anda lupa angka Romawi mana yang benar? Ini tabel lengkap dengan contoh nyata.

Kimia di Indonesia memakai sistem Stock (angka Romawi) dan sistem sistematis (awalan Yunani) untuk memberi nama senyawa. Halaman ini merangkum keduanya dalam satu tempat, lengkap dengan contoh nyata.

Unsur dengan dua bilangan oksidasi umum

Unsur-unsur berikut membentuk senyawa dalam dua bilangan oksidasi yang berbeda — sistem Stock menggunakan angka Romawi untuk membedakan keduanya.

UnsurBilangan oksidasi rendah (Stock)Bilangan oksidasi tinggi (Stock)
Besi (Fe)besi(II)besi(III)
Tembaga (Cu)tembaga(I)tembaga(II)
Timah (Sn)timah(II)timah(IV)
Timbal (Pb)timbal(II)timbal(IV)
Raksa (Hg)raksa(I)raksa(II)
Emas (Au)emas(I)emas(III)

Unsur dengan valensi tetap (tanpa angka Romawi)

Unsur-unsur ini hanya membentuk senyawa dengan satu bilangan oksidasi, sehingga tidak memerlukan angka Romawi maupun akhiran khusus.

UnsurBilangan oksidasiContoh
Natrium (Na), kalium (K)+Inatrium oksida (Na₂O)
Kalsium (Ca), magnesium (Mg), barium (Ba)+IIkalsium oksida (CaO)
Aluminium (Al)+IIIaluminium oksida (Al₂O₃)
Seng (Zn)+IIseng oksida (ZnO)
Perak (Ag)+Iperak oksida (Ag₂O)

Awalan sistematis (IUPAC)

Awalan ini terutama dipakai di antara unsur nonlogam, menunjukkan jumlah pasti atom setiap unsur dalam rumus.

AtomAwalanContoh
1mono-karbon monoksida (CO)
2di-karbon dioksida (CO₂)
3tri-belerang trioksida (SO₃)
4tetra-dinitrogen tetraoksida (N₂O₄)
5penta-dinitrogen pentaoksida (N₂O₅)
7hepta-diklorin heptaoksida (Cl₂O₇)

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara menuliskan bilangan oksidasi dalam nama kimia?

Dalam sistem Stock, bilangan oksidasi ditulis dengan angka Romawi dalam tanda kurung tepat setelah nama unsurnya, misalnya besi(III). Sistem inilah yang dipakai secara konsisten dalam kimia SMA di Indonesia.

Mengapa beberapa unsur tidak memakai angka Romawi?

Karena unsur tersebut hanya memiliki satu kemungkinan bilangan oksidasi (valensi tetap) — seperti natrium, kalsium, atau seng. Angka Romawi hanya diperlukan ketika unsur bisa memiliki lebih dari satu bilangan oksidasi, seperti besi atau tembaga.

Apakah bahasa Indonesia memakai akhiran seperti -oso/-ico seperti beberapa bahasa lain?

Tidak. Kimia Indonesia hanya memakai sistem Stock dengan angka Romawi untuk unsur bervalensi banyak — tidak ada sistem akhiran tradisional paralel seperti pada bahasa Portugis atau Spanyol.

Apa yang ditunjukkan oleh awalan mono-, di-, tri-?

Awalan ini menunjukkan jumlah atom setiap unsur dalam rumus, pada sistem penamaan sistematis (IUPAC). Awalan ini terutama dipakai pada senyawa antar-nonlogam, seperti oksida karbon, belerang, atau nitrogen.